Laman

Kamis, 24 Juni 2021

Page 175 of 365

 

Selamat malam akhir bulan Juni

Entah sudah terlalu lama rasanya aku memendam semuanya sendiri

Rasanya dititik ini aku sudah tidak sanggup memendamnya lagi

Aku lelah selalu berdebat dengan pikiran dan hati

 

Berbagai macam tekanan muncul dari mana-mana

Dari lingkungan kerja bahkan sampai dari keluarga

Dari seseorang yang kuanggap rumah,

Bahkan dari sosok yang sudah kuanggap sebagai saudara

 

Selamat malam bulan Juni

Hari esok kuharap aku bertemu Juli yang tanpa api

Kuharap Juni ini tidak lagi menjadi perih

Dan esok aku dipeluk Juli tanpa pamrih

 

Aku tidak berharap semua diringakan,

Hanya ingin aku dikuatkan

 

Jika esok kamu menemukan peluk yang lebih hangat, entah dari raga siapa

Ingatlah dulu ada pelukku yang tidak pernah terlepas

Jika esok kamu menemukan bahu yang lebih menopang, entah milik siapa

Ingatlah dulu bahuku tidak pernah lelah untuk tersandar

Jika esok kamu menemukan tangan yang lebih menenangkan, entah dari siapa

Ingatlah dulu jemariku tidak pernah melepas

 

Jika esok kamu menemukan rumah baru untuk pulang,

Ketahuilah ada hati yang diguyur hujan badai tanpa henti

 

Maaf ya,

Jika akhirnya aku memilih untuk tidak menyapamu sama sekali

Tidak bercerita seperti dulu lagi

Maaf ya,

Jika akhirnya aku memilih untuk berhenti mendoakanmu lagi

Tidak mengadu padamu seperti dulu lagi

Kamu tidak suka dengan sikap lemah ini bukan?

 

Ya,

Akhirnya aku memutuskan untuk menahan semuanya sendiri

Entah akhirnya kamu memilih jalan ke kanan atau ke kiri

Yang terpenting,

Aku dulu pernah ada

Aku dulu selalu ada

Dan kamu yang memilih hilang tanpa kabar

 

Maka,

Bahagialah.

 

 

-Rin.

Akhir Juni, 2021.

Minggu, 02 Februari 2020

Sudah ku bilang, kan

Sudah ku bilang,
Dari awal sudah ku bilang, kan?
Jangan menaruh harapan padaku

Sudah ku bilang, kan?
Jangan mencintaiku

Mencintaiku bukan perkara mudah,
Kau tau?

Aku bukan pecandu handphone
Aku bukan pecandu story
Bakhkan akupun jarang sekedar memastikan sosial mediaku
Jadi kamu akan jarang sekali menerima kabarku

Aku bukan orang yang peka
Jadi kamu tidak akan menemukan maumu dalam diriku

Aku adalah orang yang keras kepala,
Kau tau?

Aku akan sering menolak
Aku akan sering memberontak

Mencintaiku tidak akan mudah,
Aku berulang kali patah,
Kau tau?
Apa kamu bisa menerima sisi gelapku?

Aku masih berantakan,
Apa kamu tidak apa dengan semua itu?

Mencintaiku bukan hal mudah,
Kau tau?

Kamu tidak akan tahan dengan ketidakpedulianku
Kamu tidak akan tahan dengan kesibukanku
Kamu tidak akan tahan dengan keegoisanku

Pastikan dirimu tidak akan patah apalagi menyerah,
Saat kamu sudah memutuskan
Dan saat aku sudah terlanjur jatuh kepadamu

Memilihku bukan hal mudah,
Kau tau?

Jika aku sudah memutuskan untuk bersamamu,
Aku akan sering menanyakan, “Apa kau mencintaiku?”
Aku akan sering memastikan,”Kenapa kau memilihku?”
Aku akan sering memojokanmu, “Siapa yang bersamamu tadi?”
Aku akan sering menanyakan, “Apa ibumu suka padaku?”
Aku akan sering berkata,”Jangan pergi!”
Dan jangan bosan jika aku sering meminta untuk sekedar jalan berdua denganmu

Sudah ku bilang, kan
Jangan mencintaiku
Itu tidak akan mudah

Rabu, 01 Januari 2020

page 1 of 366

Hai,
Tidak. Aku tidak akan mengusik kehidupanmu
 “If you’re stuck between another girl or me,
Choose her
Because if you’re really loved me then you wouldn't have fallen for her”
Dan sungguh, kamu memilih dia.

Halaman ini sudah teramat lama tidak kujamah
Dan hari ini tiba-tiba aku mengingatmu lagi setelah lagu dalam kedai kopi itu diputar

Hampir dua tahun berlalu
Waktu bergulir begitu cepat
Rasanya baru kemarin kita bertengkar karena tidak bisa merayakan tahun baru
Ternyata tahun itu kamu sudah sibuk dengan yang baru
Apakah tahun ini kamu masih bersamanya?
Atau dengan teman magangmu?
Atau dengan adik tingkatmu?
Atau mungkin sudah dengan yang baru yang aku tidak mengenalnya?

Enam tahun yang lalu kita masih bisa merayakannya
Meski hanya lewat video call dan chat biasa
Saat itu katamu, “Jangan, kita masih terlalu muda”
Katamu saat itu, “Setelah wisuda, mari kita bersama. Kita beri tahu seisi dunia”

Empat tahun selama tahun baru kita hanya bisa merasakannya lewat virtual saja
Selain jarak yang terlampau jauh,
Katamu kita belum dewasa
Nyatanya setahun setelah itu kamu memilih kembali bersamanya
Apakah sungguh bersamanya kamu bahagia?
Bahkan hadirku pun tak mampu membuatmu melupakannya

Mulai saat itu aku dan kamu menjadi terasa sangat asing
Aku belum siap menerima keadaan
Aku muak. Muak dengan keadaan
Perasaan marah, kecewa, semua melebur jadi satu

Sudah tidak ada alasan lagi bagiku untuk selalu memastikan baterai handphoneku selalu dalam kondisi penuh
Sudah tidak ada lagi obrolan tentang kita
Bahkan jika aku mengingat, bisa ya obrolan kita dari pagi sampai malam hingga pagi lagi, begitu setiap harinya selama bertahun-tahun, tanpa jeda
Roomchat-mu selalu aku letakkan di paling atas
Karena hanya kamu satu-satunya kontak favoritku
Kadang aku berfikir, obrolan random apa yang kita bahas pada waktu itu, ya?
Notifikasi-ku selalu terpampang namamu
Background roomchat-ku bahkan adalah gambar kau dan aku

Semua itu telah sirna
Digantikan oleh satu puing rasa
Hampa

Diriku yang terbiasa kamu temani hanya sekedar untuk bercakap ringan sudah tidak ada
Namun lagi-lagi ini urusan waktu
Waktu merenggut banyak hal berharga dariku
Dan kamu menjadi salah satunya
Untuk meruntuhkan harapan teramat besar dalam diriku
Lalu aku bisa menyalahkan apa?
Kebodohanku?

Selamat tinggal tahun-tahun yang kelam
Aku pikir aku sudah kian ahli melupakan semuanya
Melupakan tentang kita ternyata tidak semudah itu
Selamat tinggal rasa dan harapan
Selamat tinggal di tempat paling dalam

-1 Januari 2020-
01:20

Sabtu, 13 Oktober 2018

Perihal : September-ku

selamat bertambah dewasa,
septemberku

maaf jika tahun ini aku hanya melihatmu dari kejauhan,
karena kamu sepertinya sudah melupakan saya,
kamu tidak perlu berdalih sulit untuk memilihku atau dia,
karena telah jelas hatimu sudah dia bawa

selamat bertambah usia,
septemberku

maaf jika tahun ini aku tidak memberimu kejutan atau kue coklat kesukaanmu seperti biasanya,
aku hanya bisa diam dan melihat dirimu dalam pejaman mata,
karena sungguh sulit bagiku menerima kenyataan bahwa kamu kini telah bersamanya

maaf jika aku tidak memberimu ucapan selamat ulang tahun lewat telepon atau video call tengah malam seperti dulu,
atau tidak memberimu selamat lewat tatapan langsung seperti kala itu

maaf aku tidak bisa memberimu hadiah yang membuatmu bahagia,
bahkan hingga membuatmu tersenyum dan memberitahu seisi dunia dunia

sekali lagi maaf,
aku tidak memberimu apa-apa,
bukannya aku lupa,
saya merasa tidak ada gunanya,
toh, sekarang kamu sudah ada dia

kiranya sekarang aku tau kenapa akhir-akhir ini kamu jarang mengabariku,
kiranya aku tau kenapa kamu lupa hari jadiku,
sekarang aku tau kenapa kamu kini jarang menelponku,
bahkan aku juga sepenuhnya tau kenapa kamu tidak pernah datang ke rumahku

aku selalu berfikir kamu disana sedang berjuang dan sibuk oleh urusan kerja,
menata masa depan, bersama saya nanti di dalamnya,
seperti katamu waktu itu, kamu tidak akan bersamanya, kamu hanya ingin aku,
hanya aku

saya selalu menunggu waktu luangmu,
kamu bilang akhir bulan akan menemuiku,
saya menerimanya dan saya menunggu,
saya hanya tidak ingin mengganggu kesibukanmu,
tapi ditengah penantian panjang tanpa kabar itu saya malah melihat kamu dengan dia,
tepat di depan mataku,
kau tau rasanya? sakit sekali

sepertinya aku salah,
aku terlalu percaya diri kamu akan memegang teguh komitmen yg kita bangun sejak dulu,
aku terlalu egois untuk percaya kamu tidak akan mengkhianati rasa ini,

sejak kapan kamu bersamanya?
padahal sudah jelas disini aku menunggu adanya kabar,
menunggu waktu luangmu,
menunggu kehadiranmu,
aku sangat merindukamu,
sangat rindu..
rasanya ini berat, sungguh berat
kau tau?

maaf,
aku hanya bisa memberimu doa di usiamu yang sekarang,

semoga dia bisa membahagiakanmu
dan mampu mencintaimu sebaik saya,
semoga dia bisa menerimamu
dan mampu menunggumu sesabar saya,
semoga dia bisa mengertimu lebih baik dari saya,

semoga dia tidak mencintaimu sedalam saya,
yg rela mengubah diri, memberikan segalanya semata-mata agar dilihat oleh matamu,
semoga dia tidak memiliki ingatan sebaik saya,
yg hingga kini saya masih mengingat jelas janji-janji dan semua yg belum kamu tepati,
semoga kelak tuhan membantu saya untuk memaafkan dan memaklumi janji-janjimu itu, ya

semoga dia tidak mencintaimu sebodoh saya,
yg rela mematahkan beberapa hati demi menjaga satu hati, yaitu kamu,
percayalah, aku pernah mengecewakan banyak orang demi memilihmu,

selamat bertambah umur,
septemberku,
untuk kamu,
perihal septemberku yg hampir tergenggam,

hei, septemberku,
aku ingin bertanya satu hal,
jika agustus tidak lagi kamu rindukan, lantas apakah selama ini memang februari yg kamu nantikan?


tertanda:
perempuan yang kini sudah tergantikan

Kamis, 26 April 2018

Essay: #SaveGenerasiUN

Essay Sistem Pendidikan di Indonesia

“Sekolah yang bener. Biar nanti jadi orang”
“Buat apa sekolah, toh nantinya besar ilmunya tidak dipakai semua”
Tentu tak jarang yang berkata seperti itu. Memang, jika dilogika semua materi pelajaran yang di dapatkan di sekolah tidak semua diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Pendidikan itu penting. Bahkan pemerintah tidak main-main soal pendidikan di Indonesia. Pemerintah sudah berupaya agar setiap warganya bisa mendapatkan pendidikan. Terbukti dari kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah. APBN yang cukup besar untuk pendidikan dan program-program guna menunjang peningkatan kualitas mutu pendidikan di Indonesia. Namun pada kenyataannya ada beberapa kebijakan yang menurut saya kurang ‘masuk’ dalam cita-cita pendidikan.
Misalnya sistem pendidikan yang menjadikan siswa menjadi ‘robot’.
Kebijakan pemerintah yang memaksa siswa menjadi ‘generasi UN’.
Sistem pendidikan yang dianut Indonesia meski sudah sering berganti kurikulum tetap saja membebankan siswa. Pada saat sekolah siswa hanya sekedar datang, duduk, mendengarkan guru, mengerjakan soal, istirahat, mendengarkan guru, mengerjakan soal, dan pulang. Begitu seterusnya dari sekolah dasar hingga sekolah menengah. Bahkan menurut saya pada saat kuliah juga seperti itu.
Tidak peduli seberapa penuh dan seberapa bosan siswa dalam kelas, guru tetap memaksakan masuknya meteri dalam otak. Guru hanya sekedar menyampaikan materi sesuai dengan tuntutan kompetensi dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Guru akan senang jika siswanya diam dan memperhatikan lalu mendapat nilai sempurna dalam ujian. Guru dinilai berhasil apabila siswanya mendapat nilai bagus dan bisa melanjutkan ke sekolah favorit.
Maka tak jarang guru yang akhirnya ‘pokoknya menjelaskan’ dan tidak memperhatikan keadaan siswanya. Padahal menurut saya apabila guru bisa mengambil hati dan membuat siswa nyaman akan kelasnya, maka siswa akan merasa senang dalam menerima materi dan tidak merasa terbebani. Wajar saja jika perhatian guru kepada siswa kurang, karena di dalam satu kelas yang diisi 40 siswa dengan 1 guru. Bayangkan. Guru harus memberi perhatian kepada 40 kepala dengan kebutuhan berbeda. Seharusnya dalam kelas diisi siswa dengan kira-kira guru bisa memahami setiap siswanya. Yang penting kualitasnya, bukan kuantitasnya. Guru akan lebih paham akan keadaan setiap siswanya dan siswa akan merasa diperhatikan. Guru tidak lagi hanya mengenal siswa yang pintar dan nakal saja. Namun guru akan mengenal setiap siswanya. Guru yang dekat dengan siswa akan membuat siswa nyaman. Apabila siswa sudah merasa nyaman dengan gurunya, maka siswa akan mulai menerima materi yang disampaikan dengan baik.
Kemudian kebijakan pemerintah tentang ujian nasional. Bayangkan saja, sekolah bertahun-tahun hanya ditentukan oleh 3 hari dan beberapa mata pelajaran saja. Lalu untuk apa sekolah jika penentuannya hanya 3 hari? Dengan standar yang disamaratakan. Lalu bagaimana nasib siswa yang bersekolah di pedalaman? Menurut saya malah UN membuat siswa terbebani dan stress berkepanjangan. Yang pada akhirnya siswa berfikir ‘pokoknya lulus’ tidak peduli bagaimana prosesnya yang penting hasilnya. Benar?
Akhirnya kembali lagi pada proses pembelajaran dalam kelas. Sistem pendidikan di Indonesia masih berorientasi pada nilai, nilai, dan akhirnya lulus tidaknya ditentukan oleh nilai Ujian Nasional juga. Siswa Indonesia akhirnya berorientasi pada akhirnya saja karena proses dianggap tidak penting. Toh untuk apa belajar kesenian, tidak di-UN-kan. Padahal ada beberapa siswa yang memang tidak mahir dalam hal perhitungan namun pandai dalam hal musik. Ada siswa yang pandai menggambar, namun bakatnya tidak diasah karena menggambar tidak ada UN-nya. Mereka hanya fokus pada materi-materi yang di-UN-kan saja.
Sekali lagi, setiap individu diciptakan dengan bakat yang berbeda-beda. Jika generasi UN ini terusberjalan dan membudaya maka tidak akan ada lagi musisi-musisi hebat yang lahir, tidak ada seniman-seniman dan atlet-atlet yang lahir. Indonesia hanya mementingkan dan menganggap spesial siswa dengan kemampuan akademis. Siswa yang tidak pandai dibidang akademis dianggap bodoh.
Jika guru menjelaskan dan guru menemukan siswa yang menggambar dibuku catatannya dianggap main-main, padahal dia berbakat dibindang menggambar. Tipe belajarnya tipe yang mudah mengingat apabila dengan gambar. Guru selalu berkata “nggambar terus di kelas. Besar besok mau jadi apa?”, memangnya menggambar itu sebuah aib? Apa menggambar itu tidak boleh? Padahal itu merupakan sebuah bakat.
Generasi UN terus ada karena kebijakan pemerintah memang seperti itu. Menciptakan generasi robot dan generasi UN. Memendam dan mengubur dalam-dalam bakat non-akademis siswa dan memaksa siswa untuk pandai dalam bidang akademis. Miris.
Sebenarnya yang memegang kendali penuh dalam kelas adalah guru itu sendiri. Guru yang baik akan melahirkan siswa yang baik pula. Bukan siswa yang dicetak oleh guru, namun guru memberikan fasilitas atas minat dan bakat setiap siswa. Jadi siswa tetap berkembang dan tumbuh sesuai dengan bakatnya. Guru dengan perhatian dan pengetahuan yang berkualitas akan mampu membimbing siswanya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Hilangkan kesan horor dan menakutan, ubah jadi pribadi yang hangat dan menyenangkan namun tetap berwibawa. Selain siswa akan merasa senang, nantinya siswa akan merasa belajar itu menyenangkan. Jadi guru yang dirindukan kedatangannya dan dinantikan pemberian materinya.

”Didik dan persiapkanlah anak-anakmu, sesuai zamannya, karena mereka diciptakan untuk hidup pada masa yang berbeda dengan masamu” (Ali bin Abi Thalib )

Kamis, 22 Maret 2018

Reaktivasi Kartu Indosat


Jarang sekali di blog ini menuliskan tentang pengalaman pribadi atau review-review produk yang saya gunakan dan yang sudah saya alami. Namun kali ini saya akan membagikan pengalaman saya ketika reaktivasi kartu indosat saya.
Coba tebak, berhasil atau tidak?
Iya. Nomor indosat saya hangus.
Nomor indosat saya keblokir.
Kartu indosat saya sudah melewati masa tenggang.
Jujur saja, saya menggunakan perdana indosat sejak saya duduk di bangku sekolah dasar hingga saat ini saya kuliah. Mungkin sudah sekitar 10 tahun saya menggunakan provider ini. Nomor ini saya gunakan dimana saja. Di akun sosial media, bank, email, dan lain sebagainya saya menggunakan nomor indosat. Namun saat saya sibuk di ‘semester akhir’ kuliah saya, saya hampir sama sekali tidak memegang handphone. Saya disibukkan oleh urusan skripsi, magang dan KKN yang menyebabkan saya jarang sekali menyentuh handphone apabila bukan karena urusan mendadak. Selain itu di daerah tempat saya KKN sangat susah untuk mendapatkan sinyal. Untuk mendapatkan sinyal harus berada di tempat tinggi atau di jalan raya.
Sekitar seminggu setelah saya pulang saya dari KKN, saya ‘iseng’ mengecek handphone saya. Dan jeng jeng jeng jeng... Tidak ada sinyal sama sekali. Saya restart handphone saya dan tetap tidak berhasil. Sinyal tetap hilang. Saya sempat berfikir bahwa kartu indosat saya rusak. Saya iseng mencoba menelepon nomor indosat saya dengan nomor lain, dan apa kata operatornya? ‘....nomor tidak terdaftar......’ saya langsung auto panik. Lalu saya mencoba meminta tolong teman saya untuk menghubungi nomor saya dan operator bilang ‘.....nomor tidak dapat dihubungi.....’ Makin panik. Mengingat-ingat kapan terakhir saya isi pulsa. Dan... yah sepertinya memang kesalahan saya. Nomor saya telah melewati masa tenggang alias hangus. Bisa direaktivasi tidak ya?
Pagi itu kebetulan ibu saya akan pergi untuk membayar BPJS dan dengan suka rela ibu saya membawa serta handphone dan nomor indosat saya yang bermasalah ke gerai indosat di Lippo. Saya harap-harap cemas apakah bisa direaktivasi. Sembari menunggu saya coba googling yang mungkin punya pengalaman seperti saya. Dan ternyata banyak yang tidak bisa reaktivasi. Saya auto sedih. Sepulang dari Lippo, ibu saya bilang bahwa nomor yang sudah hangus tidak bisa direaktivasi lagi. Wih, sueduih. Saya yang saat itu sedang bersiap berangkat kuliah jadi tidak mood untuk kuliah. Lalu bapak saya menyarankan untuk tanya ke gerai indosat lainnya. Akhirnya sepulang kuliah saya meluncur ke Plaza marina. Dan jawaban dari pihak cs agak memberikan harapan pada saya. Katanya menunggu 1-2 bulan dengan kemungkinan 50:50 bisa direaktivasi. Meski jawaban tidak pasti tapi masih ada harapan bisa direaktivasi. Keesokan harinya saya coba pergi ke pusat gerai indosat di Surabaya. Dan jawaban dari cs indosat sama dengan cs yang ada di Plaza Marina. Padahal nomor saya melewati masa tenggang baru 3 hari. Tidak ada toleransi kah? L
Saya masih ‘ngeyel’. Saya googling dan katanya kalo diisi pulsa terus hpnya direstart bisa balik lagi sinyalnya. Jasi saya coba juga. Setiap ada indomaret saya berhenti untuk beli pulsa. Tapi tetap tidak bisa karena kata mas" dan mbak"nya lagi troble kalo ga gitu nomor tidak terdaftar atau salah. Sedih lah saya. Dan besok paginya dengan ditemani teman saya, saya pergi ke gerai indosat di Kayoon berharap jawabannya berbeda. Namun ternyata..... sama. Akhirnya saya mencoba ke gerai indosat lainnya. Teman saya ini menyarankan untuk ke Grand City. Lah ada ya? Ternyata sesampainya disana jawabannya malah to the point tidak bisa direaktivasi lagi.
Yasudah. Menunggu.. saat ini hanya itu yang bisa saya lakukan.
Lalu ada teman yang menyarankan agar saya mengirim pertanyaan ke twitter cs indosat atau mengirimkan email ke email cs indosat. Maka saya lakukanlah hal itu. Dan setelah proses ‘stalking’ tak kurang pula yang menanyakan soal reaktivasi kartu dan jawaban dari admin sama. Yaitu tidak bisa direaktivasi lagi.

Balasan e-mail indosat


Balasan oa twitter indosat

Saya hampir putus asa dan ingin menyerah. Tak jarang yang menyarankan saya untuk ganti provider lain saja. Lagi-lagi saya tidak mau dan saya ingin tetap bertahan dengan nomor indosat lama saya. Kemudian saya googling lagi dan menemukan ‘something’. Akhirnya malam itu saya mencoba mengirimkan e-mail pada personal akun yang saya temukan. Saya tidak berharap lebih, namun apa salahnya mencoba. Dan besok paginya langsung dibalas. Responnya sangat cepat ketimbang cs e-mail indosat yang umum.


Balasan e-mail

Woh, dengan semangat dan penuh harap saya langsung membalas e-mail yang saya dapatkan pagi itu. Kemudian ketika siang dalam perjalanan menuju kampus, saya mendapatkan Whats App dari pihak indosat.

Whats App dari pihak Indosat

Auto bales WA. Dan pulang kuliah saya langsung ke rumah untuk mengambil KK dan langsung meluncur ke Plaza Marina. Disana saya mengambil nomor antrian dan menunggu. Ketika giliran saya tiba, saya langsung to the point jika saya ingin reaktivasi kartu dan menunjukkan balasan e-mail dan Whats App tersebut. CS langsung memberikan saya kartu baru,
tapi.........

registrasi kartu saya gagal terus. Via sms tidak bisa dan via web pun tidak bisa. Lalu pihak cs menyarankan untuk mencari sinyal diluar area Plaza Marina. Lah belum selesai kok disuruh balik?
Tidak banyak berfikir saya langsung menghubungi pihak indosat yang menghubungi saya via Whats App. Dan Alhamdulillah cs ini dengan sabar membantu saya dan responnya sangat tanggap. Kemudian setelah sekian lama.....


Aktivasi berhasil! Bahagianya~~~
Saya langsung menghubungi pihak cs Whats App dan menyampaikan terima kasih banyak karena sudah membantu saya dalam reaktivasi kartu saya.
Semoga kedepannya indosat tidak mempersulit dan tetap sabar dan menanggapi seluruh keluh kesah pelanggan. Terima kasih indosat!




NB:
Pelajaran yang bisa saya ambil dari pengalaman ini adalah, selalu sempatkan untuk mengisi pulsa agar kartu tetap bisa digunakan.
Sesibuk apapun itu, tetap sempatkan.
Dan yg kedua, tetap berusaha dalam melakukan sesuatu dan tetap meminta tolong pada yang punya hidup.
Yang penting usaha dulu!

Jumat, 17 November 2017

untuk perempuan yg saat ini dalam pelukannya



aku tidak akan panjang lebar. aku tau sepertinya kamu bukan tipikal perempuan yg suka basa basi. jadi aku akan langsung pada intinya saja.

jujur saja aku sakit hati.
bagaimana bisa kamu tiba-tiba datang disaat seperti ini.
waktu dimana sedang rawan-rawannya kami untuk saling memperbaiki diri.

tapi tidak munafik memang semuanya itu tetap berwaktu.
salahku yg sering disibukkan dengan berbagai macam kegiatan hingga aku kadang sangat jarang mengabarinya.
lalu mungkin lama kelamaan dia bosan akan ketidakhadiranku; akan kesibukanku.

lalu pada waktu seperti itu kamu datang.
aku tidak menyalahkanmu. tapi aku menyalahkan diriku sendiri yg terlalu memprioritaskan kegiatan-kegiatan itu dan setibanya di rumah aku sangat lelah dan akhirnya terlelap; ya, aku lupa mengabarinya.

sesekali aku sempat memberi kabar untuknya; aku rasa dia mengerti. namun bodohnya aku terlalu berharap dia akan memahami keadaan itu.

tidak, aku sama sekali tidak melupakan dia. disela-sela kesibukan itu aku selalu berfikir bagaimana keadaannya sekarang. hanya saja keadaan ini memaksaku untuk tidak terlalu berfikir tentang itu. ketahuilah memantaskan diri itu tidak mudah.

jujur saja sampai saat ini pun aku masih sangat merindukannya. namun apa daya..

notifku bukan lagi yg dia tunggu. bertemu denganku bukan lagi yg dia ingin. sekarang giliranmu.

tolong bahagiakan dia lebih dari apa yg bisa aku lakukan dulu sebelum aku disibukkan oleh berbagai macam kegiatan.
sempatkan lah membalas pesannya ketika kamu sedang sibuk sibuknya.
aku tau dia orang yg sangat tidak suka menunggu; maka jangan buat dia menunggu.

tolong ingatkan dia jangan terlalu memaksakan tubuhnya dalam kecintaannya dalam olahraga; ingatkan dia bahwa tubuhnya juga perlu istirahat.

tolong jaga asupan kafein dalam tubuhnya; karena yg aku tau dia adalah salah satu makhluk pecinta kopi dan kadang dia pun lupa memberi asupan karbohidrat dalam tubuhnya.

tolong juga ingatkan dia untuk memberi asupan vitamin pada matanya; ketahuilah dia pun sangat mencintai komputer dan handponenya.

tapi pahamilah keadaannya juga. kadang dia pun butuh waktu bersama teman dan dunianya. maka ketika dia dalam keadaan seperti itu jangan usik dia. tunggu saja, akan ada saat dimana waktunya seutuhnya milikmu.

jika kamu membaca ini sampaikan padanya bahwa aku meminta maaf jika kesibukanku membuatnya merasa terabaikan.

tenang, aku tidak akan merebutnya darimu. karena pilihannya sekarang bukan aku tapi kamu. dan sepertinya dia lebih bahagia bersamamu ketimbang bersamaku.

aku berterima kasih kamu sudah mau membuat senyuman lagi diwajahnya meski senyum itu bukan lagi untukku.
aku berterima kasih kamu sudah mau meluangkan waktumu untuk membaca tulisan ini.

sekali lagi;
bahagiakan dia

-Rin

Selasa, 29 Desember 2015

Rain



Arisa berlari dengan sekuat tenaga. Yukatanya berantakan. Homoginya pun kendor. Dia mencoba berlari menghindari laki-laki berandal yang mencoba menyentuhnya. Sesekali dia melihat ke belakang untuk memastikan dirinya sudah aman. Hujan kini mulai turun di daerah Kyoto malam ini. Arisa tidak perduli dengan guyuran hujan yang membasuh tubuhnya. Dia hanya ingin tenang, melarikan diri dari berandalan itu. Sekali lagi dia melihat ke belakang, dia sudah aman. Kemudian dia berhenti. Seperti pasrah merasakan dinginnya hujan malam ini.
Dia melihat ke langit malam. Membiarkan wajahnya yang cantik disentuh oleh hujan. Hujan sedikit demi sedikit menyentuh kulit putihnya. Rambut hitam panjangnya terurai, basah terkena hujan.
Dia berada dikerumunan orang-orang yang memiliki pasangan. Sedangkan dia, hanya sendiri.
Arisa menyenangi hujan. Sentuhan airnya, bau tanah basah yang disebabkan oleh hujan, bahkan dia tidak perduli jika banyak orang-orang yang melihatnya basah kuyup karena hujan. Dia sangat menikmati hujan malam ini.
“Kau bisa sakit jika terus seperti ini.” Suara laki-laki yang mengagetkan Arisa dari belakang. Dia takut jika suara itu adalah suara berandalan yang tadi. Arisa ragu untuk membuka matanya. Namun tetesan hujan tak dirasakannya lagi. Kemudian Arisa membuka matanya. Ada seseorang yang sedang memayungi dirinya. Arisa menoleh ke belakang. Memastikan siapa pria yang memayunginya.
“Kau..” Arisa terkejut mengenali pria itu. Dia adalah Seiki. Teman sekelasnya. Seiki sekarang nyaris basah karena memberikan payungnya untuk memayungi Arisa. Seiki hanya tersenyum.
“Pakailah ini.” Seiki melepas jaketnya dan memberikan payungnya kepada Arisa. Arisa hanya terdiam. Kemudian Seiki memakaikannya ke tubuh Arisa. Kini tubuh Arisa terbalut jaket Seiki. Arisa hanya terdiam. Raganya tak mampu berbohong. Tubuhnya semakin lama semakin mengigil kedinginan karena hujan ini.
“Kuantar kau pulang.” Seiki tersenyum hingga nampak jelas kawat gigi yang berjejer rapi digiginya. Arisa diam-diam menikmati senyum Seiki yang manis dengan lesung pipi. Arisa hanya mengangguk.
Sepanjang perjalanan mereka hanya saling diam. Kini mereka berada disatu payung yang sama. Dengan langkah kaki yang seirama. Diam-diam Arisa memperhatikan wajah Seiki. Wajahnya yang terkesan cuek dan mata yang sedingin es. Namun jika senyum mengembang dibibirnya, semuanya terlihat berbeda. Dia terlihat rupawan. Pria pemain piano memang memiliki aura yang berbeda. Sudah lama mereka Nampak akrab. Namun tak ada kemajuan sama sekali. Mereka sering pergi bersama, berangkat dan pulang sekolah bersama, bermain bersama. Apapun yang mereka lakukan selalu bersama.
Dibelokan pertama setelah jalan menanjak, disitulah rumah Arisa. Rumah Seiki tak jauh dari situ. Hanya berbeda satu gang saja. Sesampainya di depan rumah Arisa mereka saling diam. Hanya hujan yang menjadi peramai daerah Kyoto dan suasana mereka berdua.
“Aku-“ Mereka berbicara bersamaan. Kemudian saling diam.
“Kau saja duluan-“ Lagi-lagi mereka bicara bersamaan. Kemudian saling diam. Beberapa detik setelah mereka saling diam, tangan Seiki menggenggam tangan Arisa. Arisa hanya terkejut dan reflex melepaskan genggaman itu.
“Kau-ini.. kenapa?” tanya Arisa.
“Tidak. Kau saja yang duluan. Bukankah kau tadi ingin mengatakan sesuatu?”
“I-iya. Memang.”
“Kalau begitu bicaralah.”
Hujan kala itu sedikit mereda, hanya rintik gerimis yang tersisa malam itu. Suasana di depan rumah Arisa semakin mendukung.
“Aku-“ sebelum Arisa menyelesaikan kalimatnya, Seiki dengan cepat menutup mulut Arisa dengan satu jari dan tersenyum.
“Setelah kupikir-pikir lebih baik kau segera masuk. Kau bisa masuk angin jika berada diluar terus. Masuklah. Pakai saja jaketku. Kembalikan besok.” Seiki kemudian membuka pagar rumah Arisa dan mengantarkannya pas di depan pintu. Seiki kemudian pergi dengan tawa yang memperlihatkan kawat giginya. Arisa hanya terpaku dan melambaikan tangan.
Seiki berjalan ditengah hujan dengan memakai baju yang nyaris setengah basah dan satu payung. Dia berjalan dengan langkah yang gelisah. Dia seperti memikirkan sesuatu. Seiki berhenti dibawah lampu jalanan dekat taman. Dia memasuki taman dan duduk di ayunan. Dia meletakkan payungnya dan membiarkan tubuhnya basah. Meski hanya rintik hujan namun dengan pasti rintik ini berhasil membuat baju Seiki semakin basah. Kemudian dia hanya menunduk.
“Kau bisa masuk angin, bodoh!” suara lembut perempuan yang dikenalnya. Seiki mendongak dan ada perempuan yang sangat dia kenal. Reika.
“Kau sedang apa disini?” tanya Seiki kepada perempuan yang saat ini berdiri di depannya dan memegang 2 payung. Satu untuk melindunginya dan satunya lagi untuk Seiki.
“Harusnya aku yang bertanya padamu. Sedang apa kau malam-malam disini dan betapa bodohnya dirimu membiarkan hujan malam membasahi tubuhmu. Bagaimana kau bisa begitu bodoh tak menggunakan payung yang jelas-jelas sudah kau bawa?” Reika memarahi Seiki. Dan Seiki hanya tersenyum.
“Kau-kau sedang apa melihatku seperti itu?” Reika dalam mode tsundere. Wajahnya tersipu.
“Tak apa. Kau lucu saat kau sedang marah.” Seiki beranjak dari ayunan dan mencubit pipi Reika.
“Kau.. gila. Mana ada orang yang tampak lucu saat dia sedang marah.”
“Ada. Kau. Tehe~. Kau tau, aku suka saat kau marah-marah demi kebaikanku. Itu lucu sekali.”
“Bo-bodoh! Huh.” Reika memalingkan wajahnya dan beranjak pergi meninggalkan Seiki. Seiki hanya tersenyum dan mengikutinya dari belakang.
Keesokan harinya di kelas, Arisa melakukan ritualnya jika ia bosan. Melihat Seiki. Memperhatikan Seiki yang sepertinya juga mulai bosan dengan kelas Bahasa Inggris ini. Seperti biasa. Dia memasang headshet disebelah telinganya dan mulai melihat ke luar jendela. Seperti menerawang sesuatu. Saat jam istirahat Arisa menghampiri Seiki dan mengembalikan jaketnya dengan ucapan terima kasih.
“Jika tidak keberatan aku ingin bicara padamu sepulang sekolah.” Arisa mengajak Seiki.
“Tak masalah. Kutunggu di ruang musik.” Arisa menyetujuinya.
Seiki terlebih dulu sampai di ruang musik. Sambil menunggu dia memainkan piano dengan nada-nada yang enak di dengar. Tak lama setelah itu Arisa datang, namun Seiki tak menyadari kedatangan Arisa dan tetap memainkan piano. Arisa pun juga menikmati alunan nada yang dimainkan oleh jemari Seiki. Setelah satu lagu selesai mereka baru bertatapan.
“Kau sudah datang?” tanya Seiki dan dijawab dengan satu anggukan dari Arisa.
“Sudah lama?” tanya Arisa.
“Tidak. Kau ingin bicara apa?”
“Oh.. itu.” Arisa menghentikan kata-katanya. Dia mengeluarkan kertas dan mulai menulis disana. Setelah selesai dia menunjukkannya pada Seiki. Seiki mulai membaca tulisan Arisa.
“A-ku men-cin-ta-i-mu. Ja-di-lah pa-car-ku. Aku mencintaimu, jadilah pacarku. Hah?” Seiki menjawab dengan muka bingung. Arisa hanya mengangguk dan tersipu.
“Maafkan aku Arisa. Aku sudah mencintai orang lain selain dirimu. Bukan maksud ingin melukai hatimu. Tapi.. sungguh maafkan aku.” Jawab Seiki. Arisa hanya terkejut. Dia kira selama ini perhatian Seiki adalah cara untuk menunjukkan bahwa Seiki mencintai Arisa. Ternyata tidak. Itu adalah sifat asli dari Seiki yang sangat baik hati.
Arisa kemudian tersenyum.
“Begitukah? Tidak apa-apa. Siapa?”
Seiki terdiam beberapa saat. Menatap lekat wajah Arisa. Memperhatikan setiap detail dari wajahnya. Rambut hitamnya yang lurus terurai. Matanya yang berwarna coklat keemasan. Serta kulit putih yang halus. Dia perempuan yang sangat baik hati dan tidak banyak menuntut. Sangat cerdas dan pengertian.
“Kenapa bukan kau yang aku cintai, Arisa?”
“Aku tidak apa. Seiki. Tenanglah, aku tidak apa. Lupakan saja aku jika itu membuatmu senang. Lupakan aku jika kau bisa tertawa lagi. Lupakan aku, dan temui dia. Lupakan aku jika itu bisa membuatmu bahagia. Bahagiamu adalah bahagiaku juga.”
“Arisa.. Maafkan aku.”


Sabtu, 21 November 2015

Kyouka Suigetsu - Mafumafu


ROMANJI

“Hagurenai you ni” to tsubuyaite
Boku no suso wo tsukanda
Shizukesa ga zutto tsuduita you na
Ano natsuzora no shita

Satsuki yami ga akete
Hitomi no eishaki no naka
Hashiriyoru kimi no itoshisa
Mou modorenai

#
Toki ga yoru wo tsurete
Kimi to miteita sora wo 
Kuraku someageru
Karatomurai ashita no saki ni
 
Nee, mada kimi wa imasu ka?

Yukikau dareka ni yosomi shite
Kimi wo okoraseta koto
Sonna shiawase to machiawase
 
Ano jinja no soba

Surechigatte utsusemi
Kitto tadoreba yokorenbo
“Kidukanai furi shita kuse ni”
Ttesa kimi wa iu?

#
Akiru made miteita kimi to miteita
Sora wa doko made tsuduku no?
Tsudukanai no wa hanabi no ne ya
Sou futari no koi

Ima wa sawarenai mono ya
Wasureta mono wo
Hitotsu, futatsu, kazoeteiku
Mizu ni utsuru tsuki no iro toka
Ano hosoi yubisaki toka

Yume no mani mani

Mata nandomo, mata nando demo
Ano hanabi wo mini yukunda
Boku wa mada kimi ga suki dayo
Nee!

Yume hanabi
Tomore akashiro kiiro
Boku to ano ko no aida de
 
Me wo fusaide kita sono subete
 
Ima omoidasasete

Yoidoki ga yoru wo tsurete
Kimi to miteita sora wo
Kuraku someageru
Chiisaku natta oto no saki ni
Nee, mada kimi wa imasu ka?

Nee~

ENGLISH TRANSLATION

“So we don’t get separated”, you whisper

As you cling onto my shirt hem
Under that summer sky
Peace seems to continue forever


The darkest night in the rainy season has brightened

Inside the film projector in my eye
I run up to you, but your affection
Can no longer return


Time takes the night away

And dyes the sky I saw with you black
With the burial of my unresolved love*, I look towards tomorrow
Hey, are you still there?


The times when I had made you angry

By being distracted as someone passed by
A rendezvous with that sort of happiness
Next to that shrine


Passing by each other in reality

If we had follow through, it’d surely have been a forbidden love
“Even though you pretended not to notice”
Remember, you would say?


Watching it until I grew tired, watching it with you

Where will the sky continue to?
What won’t continue is the sound of the fireworks
Yes, just like the two of our love


Right now, the things I can’t touch & the things I have to forget

One, two, I continue to count
The color of the moon reflected in the water
And those thin fingers of yours


At the mercy of my dreams

No matter how many times, no matter how many times again

I will go to see those fireworks
I still like you, you know

Hey!

Dream fireworks, light up in red, white, and yellow

In the space between me and that girl
Everything that I’ve closed my eyes to
Right now, let me recall it


The early evening hours take the night away

And dye the sky I saw with you black
Beyond the slowly fading sounds
Hey, are you still there 

Hey~